A few rambles

23 December 2012

Ada kemungkinan besar nonton film Lawless, mengenai the Bondurant Brothers si pembuat moonshine, mendorong lahirnya anak ini. Malam minggu menjelang tengah malam, kontraksi mulai terasa aneh dan hey, pas pipis keluar mucus plug dan cairan pink. Tapi kan ini tanggal 23? Bukannya normalnya malah telat dari si termin hari natal? Kalo beneran brojol ini juga, dalam hati mikir.

Untung ada pembalut super besar yang dikasih Astit, jadi kalau ketuban pecah bisa ngga terlalu heboh. Sambil terus nonton, ketuban pun beneran pecah. Hm, oke, mungkin jadi juga anak ini brojol sebelum natal. Lawless pun harus dipause berkali-kali, karena beberapa kali juga mesti ganti pembalut.

Film selesai (rame loh ngomong-ngomong), Abi tidur ayam, Jena berusaha tidur sambil berjuang dengan kontraksi yang menggila dengan intensitas yang semakin meningkat. Posisi tidur manapun ngga membantu karena tiap lima menit kontraksi membangunkan. “Oh ternyata bisa ya kontraksi bangunin tidur.” Sempet inget komen Abi di sela-sela tidurnya dia. “Udah cobain tidur aja sini.” Beberapa kali dia juga menggumam kalimat itu. “Gabisa, sakit dan ngga ngaruh.” Jawaban juga tetap sama. Sementara itu, Jena berusaha paling ngga tidur sambil duduk dan terus bolak-balik ke toilet ngecek pembalut.

Journal 06:23 This is crazy. I couldn’t sleep. Waters broke at around 2. Red spots. Absolutely painful contractions. But still unsure about going to the hospital.

Journal 08:46 Abi called the hospital, we have to be there after 10.

Ngga kerasa sudah jam 7 pagi. Kontraksi terus menerus dan kita mulai ngitung serius dari jam 6. Katanya ini udah di tahap awal labour. Jam 8 Abi nelepon rumah sakit karena kita udah 100% yakin. Ditanya macem-macem sama bidan (jordmor atau midwife) dan kesimpulannya kita harus datang setelah jam 10 pagi. Kita pun mesen taksi lewat si app Oslo Taxi yang baru. Baru install beberapa hari sebelumnya dan mau coba pertama kali sekarang. Kalo ngga berhasil, ya sudah tinggal ke jalan cari satu yang lewat.

Journal 09:32 In between contractions. 39 minggu 5 hari.

image_2

Menunggu jam 10: makan cereal, mandi air anget, foto belly terakhir. Grogi luar biasa dan kontraksi semakin intensif.

image_1

Nunggu taksi di depan rumah.

Si app baru berhasil! Karena taksi beneran datang dan notifikasinya akurat. Jadi inget skarang kita harus rate si app ini bintang lima. Si supir taksi dari Pakistan bernama Ali nanya kita dari mana, dan setelah tahu jawabannya dia nanya apa kita orang Islam. Biar cepet dan di antara kontraksi Jena jawab iya (walau Abi sebenarnya ngga pengen nanggepin). Dia langsung bilang assalamualaikum! Dengan sopannya kita jawab walaikumsalam! Habis itu tanpa permisi dia mengeluh soal jumlah populasi di Norwegia dan Eropa yang kurang dan semua itu diakibatkan oleh pasangan yang tinggal bersama tapi tidak menikah. Katanya, orang-orang Norwegia itu makin kesini makin amoral. Jena berpikir, whatev man I got my contractions to think about. Abi hanya mengangguk-angguk ngasal.

Journal 10:04 On a cab! With a moslem Pakistani driver! Assalamualaikum!

Sampai di gedung 8 poliklinik wanita. Jena keluar taksi dan berlindung dari salju, Abi bayar taksi dan ambil koper. Kita lapor ke resepsionis persalinan bilang kalo udah telepon. Karin, si bidan dari resepsionis bawain alas sepatu kotor dan nyuruh Jena ambil urin buat tes protein. Ok rempong dan pipisnya tumpah-tumpah (kebayang pake jaket tebal dan perut segede itu lalu ada kontraksi dan masih harus presisi masukkin urin ke tempat kecil?). Anyway berhasil juga tapi sedikit yang bisa terambil. Hasil tes baik-baik saja dan kemudian harus duduk 30 menit untuk cek denyut jantung bayi beserta kontraksinya.

Lalu dia tes vagina, udah berapa besar bukaannya. 4 cm katanya, jadi kita pindah ke kamar sendiri untuk mulai tahap awal persalinan. Nama midwife pertama kita Gro. Masih muda dan baik sekali. Kontraksi jalan terus tapi sudah berjam-jam dan Gro bilang bukaannya masih tetap di 4 jadi kita harus keluar dan jalan-jalan. Mungkin Jena jadi terlalu santai dan bahkan mau tertidur setelah dengerin musik di Spotify. Terpaksalah Jena dan Abi jalan keluar kamar. Abi beli makanan dan Jena nunggu di sofa. Kontraksi makin sakit, mau nangis rasanya dan mau cepat kembali ke kamar. Abi sempet tanya rasanya kayak gimana. “Kayak sakit mens tapi 1000 kalinya.”

Shift Gro berakhir di jam 3:30 dan kita dapat bidan baru namanya Marta. Orang Denmark, lebih tua dan lebih baik lagi. Dia datang sambil ngunyah permen karet.

image_7

Journal 17:37 Setelah berjam-jam kontraksi yang super gila rasanya, dokter ngasih epidural, jadi skr rasanya lumayan less painful. Dokter ngga yakin asalnya kalo mvp gapapa jd dia harus tanya dulu. Sempet panik kalo gaboleh pake epidural…

image_3

Setelah bukaan 7 yang rasanya luar biasa sakit, Abi udah kena pukul cakar cubit gigit, Jena memutuskan untuk pake epidural. Prosesnya kira-kira 20 menit, dari Marta pasang selang IV ke pundak tangan sampai satu dokter pria yang agak judes datang dan nanyain soal mitral valve prolapse (MVP). Dia ngga yakin Jena bisa dapet epidural karena kondisi si jantung, jadi dia keluar dulu dan nanyain koleganya biar yakin. Kontraksi makin parah sakitnya. Dokter kembali bawa kabar baik: epidural is a go. Lega. You can be as judes as you want doc, but the epidural is mine. Sebenarnya dia membaik sih abis itu dan bilang good luck.

image_4

Journal 18:32 Mpot kamu harus keluar sekarang kata marta, jadi mari kita kerjasama yah.


I am a so much better person after an epidural.

image_5

Journal 18:36 Abi and I have been absent from the social media today because I am struggling with crazy contractions both at home and hospital. YES IT IS LABOUR TIME. More stories coming.

Setelah pasang jarum epidural, kira-kira butuh 20 menit untuk maksimal efeknya. Kontraksi semakin sering tapi sakitnya jauh berkurang. Jena sudah bisa lihat-lihat apa yang terjadi di Twitter misalnya. Atau ngobrol dengan normal. Atau rileks. Momen itu kita banyak ngobrol sama Marta, soal bedanya sistem labour di Skandinavia, Faroe Island, hidup kita masing-masing, kenapa kita ada di Oslo, gap antar generasi, anak-anaknya dia, piercing Jena yang sama kayak anaknya tapi punya dia lubangnya lebih gede. Si gadis berumur 19 itu mau pindah ke apartemen bareng temennya, dia juga berencana mau pindah sekolah ke Kanada biar bisa jadi ahli snowboarding. Katanya Marta masih susah untuk bisa ngelepasin dia walau tau emang harus dilepasin. Sementara itu yang anak laki berumur 16 dan menganggap semua yang Marta bilang itu salah. Dasar remaja.

image_6

Abi sempet tidur juga pas Jena bisa relaks.

Saking sukanya sama Marta, Jena berusaha untuk bisa ngelahirin Kinasih sebelum shift-nya selesai, jam 10:30 malam. Sayang sekali ini ngga didukung sama kenyataan, karena Kinasih belum sepenuhnya turun walau Jena sudah bukaan 10 dari jam 9 dan sudah berusaha dorong juga dengan posisi berdiri. Kasian Marta jadi agak stress, dia sudah bilang sama jordmor lain kalau dia akan stay terus di kamar Jena. Marta juga bilang dia akan stay lebih lama dari shiftnya tapi 2 koleganya akan datang bantuin. Marta semangat banget supaya anak ini keluar tanggal 23, sebelum tanggal liburan yang bisa membuat hidup dia rempong di masa depan (mungkin Marta ada benarnya). Jordmor shift berikutnya datang jam 23:00 dan Marta harus pergi. Sebelum pergi dia briefing jordmor baru soal kondisi Jena: udah bukaan 10 dari jam 9 tapi belum berhasil juga, dan juga satu fakta bahwa Jena adalah satu pasien yang sangat baik. Dia bilang sambil bercanda “If I find out tomorrow that you give birth after only 20 minutes with her I will be pissed!” Lalu dia ketawa, “I am just joking, of course I will be happy for you.” “Your new jordmor is very good, she will be able to help you.” Namanya Mina, orang Swedia, aslinya Yugoslavia, ngga bisa bahasa Inggris sama sekali, jadi proses adaptasi dan pengertian lebih menantang. Dan dia mirip banget sama pemilik apartment di Fagerheimgate yang kita pernah visning (lihat-lihat) summer ini. Jadi selama 5 menit kita berjuang untuk menjelaskan di mana kita mungkin pernah ketemu. Tapi akhirnya Jena nyerah, “forget it.” Tapi dia emang jago banget, dia tahu harus ngapain, bilang apa untuk support, dan posisi paling tepat untuk dorong Kinasih keluar. Sementara itu efek epidural udah habis, ditambah efeknya memang ngga termasuk bagian bawah sana, jadi setiap dorongan terasa banget sakitnya. Dua kolega lain, Berit dan satu anak baru (lupa namanya tapi masih muda banget) datang. Jena bilang, di antara rasa sakit, “I have to remind you, I am loud.” Mereka bilang ngga apa-apa sambil ketawa.

I was trully the screaming type. Like really too loud for the Norwegian hospital/people. I don’t care, I have to let it out of my system. Mina yang canggih ini terus nyuruh dorong dan Jena yang sangat kesakitan tapi tau dia harus dorong sekuat mungkin terus nurut dengan apapun yang dia bilang. Katanya di sela-sela kontraksi, “I really have to learn English and you need to improve your Norwegian.” Tentunya dia sendiri ngomong bahasa Swedia ya, kita lebih sulit lagi ngertinya. Dia tanya mau sentuh kepala bayi ngga, karena sudah terasa di mulut vagina. Entah kenapa asalnya bilang ngga, mungkin karena takut? Akhirnya dipegang juga, rambutnya yang terasa.

Setelah (rasanya) ratusan dorongan, satu dorongan terakhir dilakukan dengan sangat sepenuh hati dan dengan keinginan sangat tinggi untuk punya anak hari itu juga. I pushed like there’s no tomorrow! Kinasih Sapyera Qadar, terlahir beberapa menit sebelum tanggal 24 December yang kita hindari, dengan rambut yang sangat lebat, dan tangisan yang kencang sekali. Mereka langsung taro dia di dada Jena, skin to skin. Rasanya. Tidak. Bisa. Diungkapkan. Dengan. Hanya. Kata. Ketika nulis ini pun Jena rasanya ingin nangis. “O my god kita punya anak! O my god kita jadi orangtua!”

Salut untuk teamwork antara kami berdua. Babeh Abi is the best. Ada cerita dia pernah nolongin satu ibu ngelahirin di salah satu daerah bencana dan dengar dari ceritanya, Jena adalah salah satu yang beruntung bisa melahirkan normal, di rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan tanpa komplikasi sama sekali. Ibu itu harus melahirkan di gubuk kayu, tanpa fasilitas kedokteran, tanpa epidural, dan bayi keluar pantat duluan. Anehnya kata Abi, dia sama sekali tidak teriak kesakitan, menolak makan dan minum, dan seperti sedang dalam kondisi delirium. Anyway, Abi bilang dia bisa merasa tenang dan nenangin Jena karena itu dia, pengetahuan bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja.

Selain itu, selama proses persalinan (kira-kira 24 jam), kita memutuskan untuk tidak bilang sama sekali sama siapapun lewat media apapun. Sempat berpikir untuk tweet sesuatu seperti: “In labour, more stories coming.” Atau “Going to the hospital, between contractions, wish me luck,” tapi karena kontraksi, semua itu rasanya ngga penting sama sekali. Strategi untuk ngga bilang siapa-siapa ini berhasil sih, karena konsentrasi kita jadi tidak terpecah belah.

Journal 23:47 Kinasih Sapyera Qadar kamu lahir!!!! Cantiknya!!!!

image_8

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s