Sidewalk stories

Kamu tahu, dunia akan berakhir. Segera. Saya ingin mengajukan beberapa proposal. Pertama kamu pindah kembali ke rumah. Berhenti kerja, bilang bos kamu dari sekarang. Kita menikah dan punya anak. Segera. Sebelum dunia berakhir. Atau sebelum kamu bosan dengan hidup. Kamu harus mulai petualangan baru. Saya janji saya akan selalu bersama kamu, menjaga hati kamu supaya tidak sakit, atau ketika kamu sakit saya ada untuk merawat kamu.

Kamu lalu diam dan berpikir. Cukup lama sampai saya tertidur dan bermimpi makan belado terong yang pedas. Di mimpi itu kamu memakai gaun warna putih dan menatap saya yang lahap makan belado terong. Kamu bilang di mimpi bahwa iya kamu mau menghabiskan waktu sebelum dunia berakhir bersama dan mengambil sesendok belado terong. Kamu menjatuhkan beberapa tetes minyak belado di gaun putih kamu dan bersumpah serapah dalam berbagai bahasa seperti biasa. Saya bilang saya akan mencuci baju putih itu dengan Bayclin besok ketika kamu kerja. Kamu diam dan berpikir. Ya ampun bahkan dalam mimpi saya pun kamu banyak berpikir. Cukup lama sampai saya terbangun dari tidur.

Kamu sudah tidak ada di depan saya. Saya mencari kamu ke dapur, ke toilet, ke gang, ke taman depan rumah, ke supermarket.

Saya kembali ke kamar dan kamu ada di situ, sedang memotong ujung mawar-mawar putih segar yang saya tidak tahu kamu dapat dari mana. Kamu bilang kalau salah satu tanaman di jendela mati mengering dan butuh pengganti. Kamu selalu tidak tahan melihat kamar tanpa satupun tanaman, tapi kamu pun selalu dengan cepat membunuh mereka. Suatu hari kamu pernah bercanda bahwa tanaman-tanaman kamu seperti mantan-mantan kamu. Kamu tidak tahan hidup sendiri, tapi juga selalu berhasil membuat mereka menderita. Kamu menderita karenanya. Kamu tidak bisa membeli pacar-pacar seperti kamu membeli mawar-mawar.

Tapi saya berbeda, karena saya bukan seperti satupun dari mereka, mantan-mantan kamu. Saya kuat, kamu tidak perlu mengairi saya setiap pagi. Cukup sebulan sekali dan saya masih akan bersama kamu. Hidup dan penuh cinta.

Karena itu saya kembali ke proposal saya sebelumnya. Kali ini kamu tidak berpikir lama. Kamu tersenyum dan mencium saya. Kalian tidak perlu tahu di mana tepatnya tapi ciuman itu membuat saya sadar bahwa proposal saya berprospek cerah.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s