Sidewalk stories

25.12.2010

Jalanan nampak lengang, saya lupa kalau hari ini hari natal. Di halte tram hanya ada saya, seorang kakek-kakek dan seorang turis yang nampak tersesat sambil memegang peta kota Oslo dengan eratnya. Di halte seberang duduk seorang pemuda yang terlihat (masih) mabuk. Sisa pesta aquahvit semalam mungkin. Tram 13 akhirnya datang.

Orang tua itu duduk di depan saya dan bertanya mengapa saya sendirian di hari natal. Dia bilang hanya turis, pekerja asing atau orang tua yg tidak berkeluarga seperti dia yg sendirian di hari natal. Saya pekerja asing dan saya tidak merayakan natal, plus saya tidak berkeluarga, saya bilang. “Well lalu apa yang kamu rayakan?” Saya diam sejenak, saya merayakan liburan, saya bilang. Dia tertawa dan bilang bahwa hanya orang yg tidak senang dengan pekerjaannya dan bekerja terlalu keras yang merayakan liburan. Bagian pertama saya tidak setuju tapi mengangguk untuk bagian kedua.

Tram sudah sampai Abbediengen. Nama yang asing. Tram ini melewati bagian-bagian kota Oslo yg belum pernah saya datangi. Saya lalu bertanya pada orang tua tersebut, “Apa yg Anda rayakan Sir? Keluarga Anda dimana?”

“Istri saya sudah meninggal dan saya tidak punya anak. Kamu tinggal di gedung oranye di atas Seven Eleven?” Saya tidak sempat menjawab dia sudah melanjutkan. “Dulu saya tinggal di gedung itu di lt. 4. Kamu tahu, dulu gedung itu disebut gedung Nazi. Sebelum beralih tangan ke Øyvind, pemiliknya dulu adalah simpatisan Nazi. Saat perang dunia kedua dia selalu memasang lampu-lampu swastika besar di sekeliling gedung pada hari-hari besar seperti natal dan paskah. Dia akan menyalakannya dan membuat sekampung Yahudi di dekat sungai dag-dig-dug.” “Saya baru tahu soal itu.” Saya terkesima sambil menggosok-gosokkan kedua tangan saya, tram ini sangat dingin sekali, heaternya tidak dinyalakan. “Kalau ada orang setua saya bertanya kamu tinggal dimana, tinggal bilang di gedung Nazi. Semua orang tua di Oslo tahu soal fakta itu.” “Jadi sekarang Anda mau kemana?” Dia lalu bercerita soal bekas mahasiswanya yang sudah menganggapnya keluarga sendiri, mereka tinggal di Jar.

Tiba-tiba saya menyadari saya tidak tahu namanya dan itu cukup tidak sopan. “Nama saya Jena, nama Anda siapa?” “Saya Morten. Saya tahu namamu, saya lihat di bel depan apartemen, kamu tahu, apartemen yang kamu tempati itu dulu tempat saya dan istri saya sebelum dia meninggal.” “Oh.” Setelah istrinya meninggal dia pindah ke apartemen yang lebih kecil di dekat sungai (dekat bekas perkampungan Yahudi). Sesekali dia masih berjalan ke daerah apartemen saya untuk mengenang masa-masa ketika istrinya masih hidup.

Kami sama-sama turun di pemberhentian terakhir, Jar. Saya mengucapkan terima kasih atas ceritanya dan mengucapkan selamat liburan. Dia melambaikan tangan dan berlari-lari kecil menghampiri para penjemputnya. Morten? Nama itu agak familiar… Karena dia sering ke daerah apartemen saya mungkin nanti kami akan bertemu lagi.

Sampai nanti Tuan Morten.

– Posted using BlogPress from my Pony

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s