Sidewalk stories

Daisy dan Magnolia

Cinta itu seperti air, bisa jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah dan bisa habis diminum serta bisa membuatmu tenggelam.

“Kenapa kamu tidak mau memberi saya cinta lagi Magnolia? Kenapa kamu tidak mau memberi saya kesempatan untuk menyukaimu lagi? Kamu berlari dari saya seperti mencoba lepas dari pusaran air dan tidak ingin tenggelam sama sekali padahal saya tidak berusaha untuk membuatmu tenggelam, saya malah ingin memberimu pelampung. Saya pikir kamu mau bersama saya susah maupun senang.” Daisy mengeluh kepada angin yang lewat, kepada lebah-lebah yang berkunjung, bahkan ke tetesan embun pagi. Daisy menangis ketika hujan datang, supaya bunga-bunga yang lain tidak tahu perasaannya. Angin mencoba menenangkan Daisy. Angin mencoba netral tapi tentunya sebagai angin dia sendiri sulit untuk tidak menentukan posisi dan bergerak-gerak terus sesuka hati. Kebingungan angin membuat badai sesekali di pinggiran sungai.

Bunyi riak-riak air sungai kadang membangunkan Daisy dari lamunan dan kembali ke kenyataan di mana Magnolia masih membencinya dengan sangat. “Bisakah sekuncup bunga merasakan kebencian yang sangat kepada bunga yang lain dan memutuskan untuk tidak ingin berbagi udara maupun air maupun bumi? Bisakah sesuatu yang sangat indah merasakan sesuatu hal yang sangat busuk?” Daisy tertegun dan bertanya-tanya sendiri.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s