Oslo ✚ Scandinavia, Sidewalk stories

Terima kasih, September

Siapapun yang mengajukan hari Kamis untuk merayakan kesuksesan bulan September sungguh brilian. Jika semua orang mabuk berat dan kena hangover di Jumat pagi kami boleh datang telat di atas jam 11 siang dan seharian main ping-pong bergantian. Bisa ada kemungkinan pulang lebih cepat pula karena semua orang masih hangover. Terdengar seperti akhir pekan yang panjang.

Malam sosial kantor selalu dimulai di Champagneria, sebuah bar kecil di Solli Plass. Hari itu si bartender asal Swedia dikunjungi pacarnya yang memakai celana ketat warna merah, di mana kami semua, dengan tidak sopannya, memutuskan bahwa dia terlihat sungguh gay. Setelah beberapa botol cava dan cerita-cerita sukses perusahaan dari sempat bangkrut ke sesukses sekarang, semua orang sudah mulai sedikit mabuk. Baru jam 5 sore.

Reservasi di House of Sushi untuk makan malam dimulai pada jam setengah 7. Sebagian tidak ingin sushi karena sejujurnya, masih banyak tempat lain di Oslo yang lebih enak dan mahal. Pada hari biasa pun kami semua mampu pergi ke restoran sushi sendiri, bukannya saat bisa buang-buang uang kantor suka-suka sebaiknya makan di tempat lain? Entah kenapa tidak ada yang melawan dengan keras juga keinginan si pemberi ide, mungkin karena malas memutuskan dan membuat reservasi. Kami diberi meja paling panjang. Sayangnya mereka tidak berpikir untuk memberi meja di pojok tapi malah di dekat pintu keluar, di mana semua orang bisa mendengar betapa berisiknya kami. Bermacam-macam sushi dan sashimi, bergelas-gelas sake, berbotol-botol bir Asahi, yang rasanya jauh lebih enak daripada bir buatan Norwegian (kecuali mungkin Mack asal Tromsø), menambah energi semua orang untuk berbicara semakin keras dan mengeluarkan lawakan-lawakan jorok. Rasanya seperti percakapan makan siang sehari-hari di dapur kantor, kecuali saat itu kami sedang di restoran sushi di daerah Frogner, dan banyak orang tak dikenal yang mendengarkan. Jam menunjukkan jam 8.

Masih terlalu sore untuk berangkat ke klub terakhir (yang sebetulnya kami belum memutuskan akan kemana). Jadi kami jalan sedikit ke Palace Grill, tempat minum-minum di Solligata yang 85% didominasi oleh laki-laki. Masih bulan Oktober tapi Oslo sudah dikunjungi salju pertamanya tahun ini. Sambil berjalan dan sesekali menengadah ke langit, dengan khusyuk kami mengutuk kota ini. Sambil menatap keluar jendela Palace Grill, semua tangan memegang gelas-gelas berisi Cuba Libre, gin and tonic, anggur merah, dicampur bir hitam Irlandia. Kami sudah yakin malam itu akan berakhir dengan kemabukan maksimal disertai tingkah laku memalukan.

Selanjutnya, hal-hal yang terjadi Kamis malam itu, terjadi dengan cepat. Norgestaxi terbesar yang pernah kami tumpangi. Blaze Go Go Bar di dekat katedral. NOK 100 untuk masuk, NOK 500 untuk satu kali dansa di pangkuan. Gadis-gadis dansa di panggung bugil. Gadis-gadis dansa di pangkuan bugil. Gadis-gadis telanjang lalu lalang datang dan pergi, sesering gelas-gelas minuman berganti dari penuh ke kosong ke penuh lagi, dan kosong lagi. Sofia terjadi. Datang dari Milan ke Oslo baru seminggu yang lalu. Penari telanjang tercantik yang ada di situ, lainnya gadis-gadis lokal dan dari Portugal, Lithuania, Romania, semua berwajah biasa-biasa saja. Sofia selalu kembali ke meja kami antara karena kami terlihat paling ingin buang-buang uang, atau karena kami terlihat paling menyenangkan dibanding tamu-tamu lain. Pipi Sofia digigit oleh salah satu dari kami. Sofia meminta salah satu dari kami untuk tidak menggigitnya lagi. Sofia minta nomor telepon orang yang baru menggigitnya. Dua gadis kembar asal Portugal. Dansa-dansa lebih mahal di ruangan pribadi. Sofia kembali ke orang yang tadi menggigitnya. Banyak hal lain terjadi pada kami masing-masing malam itu, dan yang pasti semua istri dan pacar tidak ada yang tahu soal di mana malam sosial kantor itu berakhir.

Sekali lagi, siapapun yang mengajukan hari Kamis untuk keluar bersama sungguh brilian, karena keesokan harinya kami sepakat untuk telat bersama dan pulang lebih cepat. Tidak lupa juga bermain ping-pong bergantian di sela-sela percakapan – tentunya hal-hal yang diingat saja – mengenai semalam.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s