Sidewalk stories

Buku Perasaan, Sebuah Awal

buku hitamSaya tidak bisa mengingat semua perasaan saya, karenanya saya selalu membawa buku catatan hitam itu. Di dalamnya terdapat index mengenai subyek-subyek tertentu lengkap dengan perasaan saya terhadapnya. Ketika saya bertemu dengan orang lain saya selalu mencari namanya dalam index buku saya dan baru saya bisa kembali ingat apa yang harus saya rasakan. Seperti misal:

Jeong – ingat-ingat mengenai green curry salah bumbu
J…
J…
Kane – sedih (entah karena apa saya tidak mencatatnya)
K…
K…
K…
Lita – seperti musim dingin yang datang terlalu cepat
L…
L…
Matteo – inginnya dia bisa jadi pacar saya
M…
M…

Dan daftar akurat ini terus bertambah seiring saya bertemu banyak orang baru.

Ketika saya masih di Pasifik dulu saya tidak ingat bahwa saya sering melupakan perasaan saya terhadap orang lain. Ketika masalah ini pertama muncul saya pikir hanya karena stres dan kemudian saya mengatasinya dengan menyamaratakan semua orang dengan satu perasaan: datar. Lagian saat itu saya sibuk kerja sebagai associate writer di bawah satu advertising agency asal Jepang yang sedang berkembang pesat. Komputer di kantor dan laptop adalah pacar-pacar saya. Empat sisi dinding di kantor adalah sahabat terbaik saya. Foto-foto di dinding, poster, post-it warna-warni berisi memo, mug bertuliskan “Drinking from this mug will make you gay” hadiah dari seseorang, gelas berisi pensil-pensil, kartu pos di dinding, jar air, tumpukan kertas dokumen, buku-buku dan majalah di rak adalah teman-teman saya. Selain itu semua adalah hanya acquaintances. Tiba-tiba suatu hari, hilang semua perasaan. Orang-orang di kantor rasanya sama semua, tidak ada yang spesial. Demikian juga dengan teman-teman bekas kuliah dan sekolah. Terakhir reuni, saya sama sekali tidak tahu harus merasakan apa pada masing-masing orang itu. Bekas tim drama. Tim softball. Tim futsal. Pemandu sorak. Mantan-mantan pacar. Pacar pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Mantan teman tidur. Mantan teman curhat. Mantan musuh. Geng tukang gosip. Kelas sosial. Kelas eksak. Kelas bahasa. Bahkan pada sahabat-sahabat terdekat semasa sekolah. Karena itu saya memutuskan pindah jauh. Suatu hari saya menutup mata dan jari saya berputar di peta dunia dan berhenti menunjuk Norwegia.

Ketika saya pindah ke Skandinavia, saya pikir hal ini akan berubah. Pindah jauh dari tempat kelahiran ternyata tidak membawa kemajuan. Karena itu suatu hari saya membuat janji dengan general practitioner di kampus. Dia bilang ini mungkin hanya sementara. ‘Sementara’ standar orang sini, saya kira, karena sekarang sudah dua tahun berlalu saya melewati kehidupan di Oslo, empat tahun dijumlahkan dengan waktu di rumah, saya masih tidak punya perasaan apa-apa. Saya pun meng-update buku hitam saya dengan:

K…
Kristian Ottosen (general practitioner) – sebal
K…
K…

Fiuh. Untungnya saya masih ingat nama-nama perasaan dan bagaimana cara mengaktifkannya. Saya pernah mencoba mencari asal-usul penyakit – saya tidak begitu yakin ini penyakit, mungkin hanya gangguan dan bahkan mulai sekarang saya akan menyebutnya gangguan – ini di Google. Pertama, dengan kata kunci ‘gangguan hilang perasaan’, yang muncul pertama kali adalah: ‘2008 Maret << Fibri Aryanto’s Weblog’ mengenai ‘Otomatis, ginjal ini juga akan mengalami gangguan.’ Etc etc. saya tidak klik karena jelas nampak bukan soal hilang perasaan. Yang muncul kedua adalah: TANPA NAMA: PERSEPOLIS ATLANTIS dengan ‘Anda yang mengalami gangguan sebarang gangguan kejahatan dan sihir dari Jin syaitan dan manusia…,’ yang tidak saya klik juga, pastinya. Lalu saya ganti strategi mencari data dengan kata kunci sama menggunakan tanda kutip supaya lebih spesifik. Hasilnya:

Your search – “gangguan hilang perasaan” – did not match any documents.

Mari kita ganti-ganti kata kuncinya. Bagaimana dengan ‘lost’ ‘feeling’ ‘disorder’? Di antara WikiAnswer dengan sarannya cara memenangkan kembali hati pacar setelah dia hilang perasaan dan cintanya, The Monster Blog dengan topik perasaan tersesat dalam karir, bipolar disorder dan lain lain lain, tidak ada yang benar-benar membahas mengenai lupa akan perasaan akan orang lain. Apakah ini berarti saya hanya sendirian di dunia ini dengan hal itu? Atau mungkin saya tidak sendirian tapi orang-orang itu enggan berbagi dengan dunia sehingga tidak ada yang tahu sama sekali keberadaan hal ini.

Setelah gejolak ingin menghilangkan rasa lupa tersebut menyerang dengan dahsyat, saya kembali ke kesibukan dengan rutinitas awal. Jadi mahasiswa S2 yang baik. Ke kampus kuliah. Ke perpus mencari buku dan sesekali tetap mengerjakan tugas untuk kantor lama. Kadang mengikuti seminar mengenai isu-isu terbaru di dunia supaya bisa ngobrol lebih baik dengan mahasiswa-mahasiswi S2 lain. Minum kopi banyak-banyak. Sesekali menikmati snus dingin di bawah bibir atau merokok tapi lebih baik tidak di depan umum supaya tidak dibenci para perokok pasif. Duduk di sofa kamar berlama-lama sambil bengong menatap jendela kamar dan melihat orang lalu-lalang di taman depan gedung. Di dapur berlama-lama dengan eksperimen memasak hal-hal baru (terakhir adalah mi jamur pedas yang rasanya tidak dijamin tapi saya tetap makan). Meminjam buku-buku untuk tugas kampus tapi hanya membacanya sekilas dan membiarkannya menumpuk. Atau meminjam buku secara random. Terakhir adalah For Rushdie. Hanya seperempat terbaca dan sekarang terbengkalai di bawah buku Jake’s Thing dan On Beauty yang saya beli di loppe marked. Itu semua adalah kegiatan yang sungguh tidak membutuhkan bantuan si buku hitam. Kecuali ketika di tengah proses itu bertemu dengan seseorang tiba-tiba, saya akan buru-buru membuka buku hitam dan mencari namanya di index.

Allen – ikke spesialt
A…
Bea – ingat sensasi menjadi vegan…atau diet super keras
B…
B…
Charlotte – “be Dutch once in your life
C…
C…
C…

Dan daftar itu terus bertambah. Orang mungkin pikir saya sibuk sekali sehingga harus selalu melihat buku hitam itu, tapi yang pasti hanya saya dan kamu yang membaca ini yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya kamu. Satu-satunya yang tahu apa yang saya baca dan tulis di buku itu.

Lama kelamaan, buku ini tidak hanya menuliskan perasaaan saya mengenai seseorang, tapi lebih banyak apa yang harus dilakukan ketika bertemu seseorang itu.

Disko – jangan biarkan dia membahas soal kisah cintanya!
Donna – ingatkan dia untuk lebih optimis
Edgar – biarkan dia menyapa duluan
Emma – jangan tertawakan rambutnya yang seperti singa
Fick – be cool, so cool that it hurts!
Filip – berbaik-baiklah karena dia pernah meminjamkan kamarnya

Hidup memang semakin ramai, tapi saya tetap tidak ingat semua perasaan saya terhadap masing-masing penceria hidup berbentuk manusia. Jangan lupa, saya masih bisa tertawa bahagia. Setelah saya tertawa lepas, saya melihat orang yang membuat tertawa tersebut dan…kembali lupa apa yang harus saya rasakan terhadapnya. Kamu pikir pasti ini aneh. Saya sudah berhenti mengatai saya sendiri aneh karena sungguh, tidak ada yang aneh lagi bila kamu sudah merasakannya sendiri.

Tapi sebentar lagi kamu akan menemui seorang saingan. Seorang yang tahu juga mengenai gangguan ini, dan saya dengan (anehnya) bersukarela membaginya! Seseorang yang meninggalkan impresi terlalu kuat sampai saya ingat selalu perasaan saya terhadapnya, seseorang yang juga telah sukses membawa gangguan itu kembali. Saya mungkin akan kembali lain kali untuk menceritakan ini.

(mungkin bersambung?)

Standard

2 thoughts on “Buku Perasaan, Sebuah Awal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s