Sidewalk stories

How Much Is The Time?

4.30

“Berapa jamnya?” Tiba-tiba seorang bule bertanya ketika saya berdiri menunggu teman di depan kantornya. “Maksud kamu, jam berapa? Karena jam ini tidak untuk dijual.” “Ah ya.” Dia tertawa sambil menutup mulut dengan tangan kanannya, saya bisa melihat cincin itu. “Iya, maaf bahasa saya kacau masih.” “Tidak apa-apa, yang penting mencoba terus.” “Iya mengerti, practice practice practice. I really hope those practices can make my Indonesian language perfect. Kadang capai saya. Saya cinta bahasa ini tapi, jadi saya coba terus.” “Kenapa kamu cinta?” Maksud saya, saya juga cinta karena itu bahasa saya, tapi kalau bule cantik begini yang ngomong, harusnya ada alasan yang menarik, paling tidak itu yang saya harapkan. “Karena suami saya. Dia dari Bali. Kacau sekali English dia. Lebih kacau dari bahasa saya.” Lho, itu nampak kurang menarik alasannya. Nampak lebih seperti kewajiban atau keharusan. Nampak bisa membaca pikiran saya, dia melanjutkan, “Saya cinta negari ini. Kalau bisa bahasa dengan baik, saya bisa komunikasi better dengan negari ini.” Tiba-tiba saya jadi kecewa. Kenapa bule cantik dan pintar seperti ini sudah ada yang punya? Orang Bali pula, pastinya nyeni dan baik hati. Maaf saya ber-stereotype. Semoga tidak ada orang Bali yang bisa membaca pikiran saya ini. “Ngomong-ngomong, sekarang jam 4.30.” Saya mengingatkan dia pada maksud awalnya. “Ah, empat itu sebelum lima yakan?” “Iya.” Lalu dia berlari ke arah dia datang sambil berteriak, “Makasih….!” Saya hanya mesem-mesem.

 

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s