Kamu tahu, dunia akan berakhir. Segera. Saya ingin mengajukan beberapa proposal. Pertama kamu pindah kembali ke rumah. Berhenti kerja, bilang bos kamu dari sekarang. Kita menikah dan punya anak. Segera. Sebelum dunia berakhir. Atau sebelum kamu bosan dengan hidup. Kamu harus mulai petualangan baru. Saya janji saya akan selalu bersama kamu, menjaga hati kamu supaya tidak sakit, atau ketika kamu sakit saya ada untuk merawat kamu.

Kamu lalu diam dan berpikir. Cukup lama sampai saya tertidur dan bermimpi makan belado terong yang pedas. Di mimpi itu kamu memakai gaun warna putih dan menatap saya yang lahap makan belado terong. Kamu bilang di mimpi bahwa iya kamu mau menghabiskan waktu sebelum dunia berakhir bersama dan mengambil sesendok belado terong. Kamu menjatuhkan beberapa tetes minyak belado di gaun putih kamu dan bersumpah serapah dalam berbagai bahasa seperti biasa. Saya bilang saya akan mencuci baju putih itu dengan Bayclin besok ketika kamu kerja. Kamu diam dan berpikir. Ya ampun bahkan dalam mimpi saya pun kamu banyak berpikir. Cukup lama sampai saya terbangun dari tidur.

Kamu sudah tidak ada di depan saya. Saya mencari kamu ke dapur, ke toilet, ke gang, ke taman depan rumah, ke supermarket.

Saya kembali ke kamar dan kamu ada di situ, sedang memotong ujung mawar-mawar putih segar yang saya tidak tahu kamu dapat dari mana. Kamu bilang kalau salah satu tanaman di jendela mati mengering dan butuh pengganti. Kamu selalu tidak tahan melihat kamar tanpa satupun tanaman, tapi kamu pun selalu dengan cepat membunuh mereka. Suatu hari kamu pernah bercanda bahwa tanaman-tanaman kamu seperti mantan-mantan kamu. Kamu tidak tahan hidup sendiri, tapi juga selalu berhasil membuat mereka menderita. Kamu menderita karenanya. Kamu tidak bisa membeli pacar-pacar seperti kamu membeli mawar-mawar.

Tapi saya berbeda, karena saya bukan seperti satupun dari mereka, mantan-mantan kamu. Saya kuat, kamu tidak perlu mengairi saya setiap pagi. Cukup sebulan sekali dan saya masih akan bersama kamu. Hidup dan penuh cinta.

Karena itu saya kembali ke proposal saya sebelumnya. Kali ini kamu tidak berpikir lama. Kamu tersenyum dan mencium saya. Kalian tidak perlu tahu di mana tepatnya tapi ciuman itu membuat saya sadar bahwa proposal saya berprospek cerah.

25.12.2010

Jalanan nampak lengang, saya lupa kalau hari ini hari natal. Di halte tram hanya ada saya, seorang kakek-kakek dan seorang turis yang nampak tersesat sambil memegang peta kota Oslo dengan eratnya. Di halte seberang duduk seorang pemuda yang terlihat (masih) mabuk. Sisa pesta aquahvit semalam mungkin. Tram 13 akhirnya datang.

Orang tua itu duduk di depan saya dan bertanya mengapa saya sendirian di hari natal. Dia bilang hanya turis, pekerja asing atau orang tua yg tidak berkeluarga seperti dia yg sendirian di hari natal. Saya pekerja asing dan saya tidak merayakan natal, plus saya tidak berkeluarga, saya bilang. “Well lalu apa yang kamu rayakan?” Saya diam sejenak, saya merayakan liburan, saya bilang. Dia tertawa dan bilang bahwa hanya orang yg tidak senang dengan pekerjaannya dan bekerja terlalu keras yang merayakan liburan. Bagian pertama saya tidak setuju tapi mengangguk untuk bagian kedua.

Tram sudah sampai Abbediengen. Nama yang asing. Tram ini melewati bagian-bagian kota Oslo yg belum pernah saya datangi. Saya lalu bertanya pada orang tua tersebut, “Apa yg Anda rayakan Sir? Keluarga Anda dimana?”

“Istri saya sudah meninggal dan saya tidak punya anak. Kamu tinggal di gedung oranye di atas Seven Eleven?” Saya tidak sempat menjawab dia sudah melanjutkan. “Dulu saya tinggal di gedung itu di lt. 4. Kamu tahu, dulu gedung itu disebut gedung Nazi. Sebelum beralih tangan ke Øyvind, pemiliknya dulu adalah simpatisan Nazi. Saat perang dunia kedua dia selalu memasang lampu-lampu swastika besar di sekeliling gedung pada hari-hari besar seperti natal dan paskah. Dia akan menyalakannya dan membuat sekampung Yahudi di dekat sungai dag-dig-dug.” “Saya baru tahu soal itu.” Saya terkesima sambil menggosok-gosokkan kedua tangan saya, tram ini sangat dingin sekali, heaternya tidak dinyalakan. “Kalau ada orang setua saya bertanya kamu tinggal dimana, tinggal bilang di gedung Nazi. Semua orang tua di Oslo tahu soal fakta itu.” “Jadi sekarang Anda mau kemana?” Dia lalu bercerita soal bekas mahasiswanya yang sudah menganggapnya keluarga sendiri, mereka tinggal di Jar.

Tiba-tiba saya menyadari saya tidak tahu namanya dan itu cukup tidak sopan. “Nama saya Jena, nama Anda siapa?” “Saya Morten. Saya tahu namamu, saya lihat di bel depan apartemen, kamu tahu, apartemen yang kamu tempati itu dulu tempat saya dan istri saya sebelum dia meninggal.” “Oh.” Setelah istrinya meninggal dia pindah ke apartemen yang lebih kecil di dekat sungai (dekat bekas perkampungan Yahudi). Sesekali dia masih berjalan ke daerah apartemen saya untuk mengenang masa-masa ketika istrinya masih hidup.

Kami sama-sama turun di pemberhentian terakhir, Jar. Saya mengucapkan terima kasih atas ceritanya dan mengucapkan selamat liburan. Dia melambaikan tangan dan berlari-lari kecil menghampiri para penjemputnya. Morten? Nama itu agak familiar… Karena dia sering ke daerah apartemen saya mungkin nanti kami akan bertemu lagi.

Sampai nanti Tuan Morten.

- Posted using BlogPress from my Pony

Bochum

“Plak!”. Rasanya seperti ditampar ketujuh kalinya oleh tangan yang tidak terlihat ketika mendengar penolakan ketujuh bulan ini. Zurich. Tel Aviv. Poznan. Dubai. Ekaterinburg. Hanoi. Dan sekarang Bochum. Rasanya sekarang seperti kehilangan taring. Semua orang mengalami hari-hari yang baik sementara saya sebaliknya. Tidak bisa menyelesaikan misi yang biasanya saya lakukan dengan sempurna. Kegagalan berkomunikasi dan bernegosiasi. Sangat inkompeten. Ingin berhenti bekerja. Ingin melempar spidol ke muka bos-bos. Ingin menangis di ruangan fotokopi.

“Plak!”

Mungkin ini ada hubungannya dengan tante-tante saya yang sedang berkunjung. Tante-tante saya yang gila luar biasa. Mereka membuat saya ikut gila dan melakukan hal-hal yang tidak terencana. Buku agenda saya marah dan tidak mau berbicara lagi dengan saya karenanya. Tante Flo menyuruh saya membeli tiket pesawat ke Dortmund dan kereta ke Bochum. Tante Flo membuat saya berbohong dan bilang kantor bahwa saya harus ke Utrecht menemui saudara jauh yang sudah lama tidak bertemu. Tante Flo membuat saya terobsesi dengan Bochum. “Spontanitas kadang dibutuhkan nak,” kata Tante Flo. Ada apa di Bochum sih? Starlight Express Theatre. Danau Kemnade. Penolakan/ kegagalan/ inkompetensi ketujuh di bulan Desember.

Blah.

Tante Sarah membuat saya melempar tv yang rusak keluar jendela dan hampir menimpa pasangan kakek nenek yang sedang berjalan berpegangan tangan melewati trotoar yang licin karena es kering. Saya langsung berlari ke luar dan meminta maaf berjuta-juta kali karena mereka berteriak-teriak memanggil polisi. Saya tidak mau berurusan dengan polisi terutama dalam satu hari sebelum berangkat ke Bochum. Tante Sarah selalu membuat saya melempar barang-barang di dan dari kamar, terutama ketika sedang berargumen dengan pacar. Satu hari ketika Tante Sarah datang saya membuat kening salah satu mantan pacar berdarah karena cangkir yang melayang tepat di sasaran. Setelah putus dengan si mantan pacar, dalam hati saya berterima kasih pada Tante Sarah karena memberi kesempatan untuk melempar cangkir itu. Tapi secara jangka panjang ini tidak baik karena sekarang saya kehabisan cangkir untuk kopi di pagi hari.

Tante Mary membuat saya menangis karena kata-katanya yang menyakitkan hati. Bagaimana bisa seseorang yang sangat tidak sensitif membuat orang lain jadi sangat sensitif? “Rasanya sekarang seperti kehilangan taring. Semua orang mengalami hari-hari yang baik sementara saya sebaliknya. Tidak bisa melakukan pekerjaan yang biasanya saya lakukan dengan sempurna. Kegagalan berkomunikasi dan bernegosiasi. Sangat inkompeten.” Itu semua menurut Tante Mary. Dia membuat saya tidak mau bertemu orang karena takut disakiti lewat argumen kecil. Tante Mary bisa membuat saya menangis hanya karena melihat kaos kaki yang tidak pada tempatnya. Kursi yang tiba-tiba menghalangi jalan pintu masuk ke kamar. Adegan lucu di film komedi.

A

I

R

M

A

T

A

B

E

R

J

A

T

U

H

A

N

Saya paling tidak suka dengan Tante Mary.

Tante Jenny biasanya datang setelah semua tante yang membuat hidup berantakan pergi dengan tiba-tiba. Tante Jenny bisa membuat saya lebih tenang dan bisa menangkis semua gejolak paska kejadian-kejadian atau keputusan-keputusan yang dipaksakan tante-tante lain.

Di Bochum, Tante Jenny datang menyusul setelah saya hampir mau menenggelamkan diri di Danau Kemnade. Di situasi-situasi seperti ini dia bisa tersenyum dengan tenangnya. Dia selalu muncul dengan kata-kata yang menyejukkan hati. Mengenai penolakan-penolakan itu misalnya, dia berkata, “Masih ada ratusan kota lain yang bisa kamu takluki nak.” Saya memandang keluar jendela Fräulein Coffea sambil sesekali menatap Tante Jenny di depan saya. Oskar-Hoffmann-Strasse nampak lengang, sesekali sepeda lewat. Tiga jam lagi kereta saya untuk kembali ke Dortmund berangkat. Masih ada waktu untuk berpikir.

Hidup ini memang aneh. Sepulang dari Bochum saya berhasil memenangkan Warsawa dan tahun 2010 ditutup dengan kesuksesan. Walaupun demikian, dalam 28 hari saya tahu saya harus kembali berhadapan dengan tante-tante saya. Kita lihat saja nanti, kemana lagi saya akan pergi dan mencoba bunuh diri sebelum dihentikan Tante Jenny.

Rauha.

Semua ini terlalu cepat terjadi. Rasanya baru kemarin pesta-pesta pelajar di dapur apartemen terjadi. Pasar-pasar loak yang menjual baju musim dingin murah. Toko-toko imigran di Oslo. Mencoba naik t-bane tanpa bayar tiket selama sebulan penuh. Poker-poker ilegal di taman belakang apartemen. Memaki bersama mesin laundry yang menelan koin tanpa bekerja normal. Memberikan CV ke kafe dan bar sepanjang Grünerløkka tanpa ada panggilan sama sekali. Bolos kelas bahasa Norwegia. Perpisahan. Perpisahan. Perpisahan.

Tanda tanya besar.

“Hello orang asing :) saya sedang sibuk cek persyaratan sekolah sekarang. Tapi minggu depan saya berangkat ke sauna di Enonkoski! Oh ya, saya telah baca-baca bahan dari Amnesty International dan University of Lapland yang kamu sarankan, saya tertarik melakukan penelitian bersama tentang sikap masyarakat terhadap kekerasan seksual, tapi memakai berbagai variabel yang dapat merubah sikap dasar. Yeah, dan kemudian sekali lagi banyak kesulitan…selalu ada kesulitan. Ibu saya bilang sesuatu mengenai penelitian yang kamu lakukan tapi saya lupa apa komentarnya secara detail. Terdengar benar-benar sulit? Saya lupa. Ingin segera bertemu lagi! :)”

Sambil menyetir di jalan kembali menuju Praha dari Brno, Rauha tidak berhenti tertawa mendengar cerita-cerita Maria mengenai pesta-pesta Erasmus di Helsinki yang liar dan penuh drama. Dia sendiri sedang menjadi peneliti asing di Universitas Charles di Praha selama setengah tahun dan Maria datang mengunjunginya untuk satu minggu. Salju di luar turun semakin tebal dan sesekali Rauha harus memajukan badannya untuk melihat jalan dengan lebih jelas. Jalanan cukup sepi, hanya beberapa truk besar yang agak lambat dan sesekali harus mereka lewati. Saat mereka membahas mengenai betapa menyenangkan hidup inilah truk di sebelah mobil tiba-tiba terbalik dan menimpa mobil Škoda sewaan. Hanya tiga detik setelah menyadari apa yang akan terjadi dengan hidup mereka yang menyenangkan, Rauha dan Maria meninggal seketika tertimpa truk beserta batu-batu nisan granit yang diangkut truk tersebut.

“Yeah motivasi untuk melakukan hal-hal penting hilang dengan cuaca yang mendingin akhir-akhir ini. Seharusnya saya membaca untuk ujian besok tetapi saya telah menghabiskan waktu di perpustakaan dengan melihat hal-hal tidak penting di fb selama hampir seharian sekarang, bukanlah hal yang baik. Hahaha. Saya berencana berangkat ke Chicago, ada satu seminar dan saya diundang. Dilema orang penting: belajar ujian atau persiapan seminar di Amerika? Selain itu saya masih berkutat dengan dokumen-dokumen penelitian…dan tidak ada yang bisa menggantikan saya pergi. Saya akan bertanya apakah Tarja bisa pergi, tapi saya belum pernah ke Chicago…”

Alžbeta berlari menuju kedutaan Finlandia di Praha untuk memastikan apakah kabar mengenai temannya Rauha di TV itu benar. Dua pelajar asing asal Finlandia meninggal seketika dalam sebuah kecelakaan naas di Moravia. Yang Alžbeta tahu, Jumat lalu Rauha pamit ingin membawa Maria sahabatnya dari Helsinki, ke Brno untuk mengunjungi Janáček Academy of Music and Performing Arts, sekolah yang Maria mungkin akan masuki tahun depan. Kedua gadis itu ingin memastikan bahwa Brno akan cukup menarik untuk dihidupi selama satu tahun.

Sudah sepuluh tahun lamanya semenjak menemukan ibunya tergantung dari atap-atap dapur Alžbeta tidak pernah menangis. Mr Keskitalo, representatif yang ditugaskan untuk berbicara dengan Universitas Charles di Praha serta pihak-pihak lain di Praha yang mungkin harus mengetahui mengenai kabar Rauha, mencoba menenangkan Alžbeta dengan memeluknya. Mr Keskitalo tidak sadar bahwa parfum dan lipstik Alžbeta yang menempel di jas abu-abu mudanya kemudian akan membawanya pada masalah berjangka panjang dengan Mrs Keskitalo yang mengakibatkan perceraian fatal tiga tahun mendatang.

Jadi yeah, saya ingin ke Chili atau ke salah satu negara di Amerika Selatan musim semi depan, tapi yang ada kelihatannya saya akan terpaksa untuk malah pulang kampung atau tetap berkutat dengan penelitian ini di Ceko. Saya sangat pesimis semua perjalanan ini bisa dicapai… Saya pikir kamu bisa datang ke Helsinki ketika saya pulang Natal ini? Saya sudah bilang ibu untuk siap-siap :) Saya menulis email ini di sebelah Alžbeta ngomong-ngomong, dia baru dapat pekerjaan di Galerie Rudolfinum, dia ingin kamu tahu. Sepanjang jalan di Praha sudah bersalju dan ini tidak relevan, tapi kami bertanya-tanya apakah kamu masih betah berada di Oslo… Francois akan berkunjung ke Praha minggu depan, kamu tahu? Apakah kamu masih berkorespondensi dengannya? :)”

Saya membaca email dari Alžbeta mengenai Rauha pada hari Senin pukul 4.15 sore waktu Oslo. Besoknya saya terbang ke Helsinki pesawat pertama dan bertemu dengan Alžbeta di sana. Kami berdua menemui ibu Rauha untuk pertama kalinya. Tanpa Rauha.

“Hidup ini sedang asam dan tidak kooperatif seperti biasa. SSDD. Kamu ingat film Saving Private Ryan? Fucked up beyond recognition :) Kadang di tengah semua ini saya lupa kalau hidup itu menyenangkan. Mungkin saya harus menonton film itu lagi sekarang…kamu sudah memutuskan akan ke Helsinki atau tidak untuk Natal?”

Daisy dan Magnolia

Cinta itu seperti air, bisa jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah dan bisa habis diminum serta bisa membuatmu tenggelam.

“Kenapa kamu tidak mau memberi saya cinta lagi Magnolia? Kenapa kamu tidak mau memberi saya kesempatan untuk menyukaimu lagi? Kamu berlari dari saya seperti mencoba lepas dari pusaran air dan tidak ingin tenggelam sama sekali padahal saya tidak berusaha untuk membuatmu tenggelam, saya malah ingin memberimu pelampung. Saya pikir kamu mau bersama saya susah maupun senang.” Daisy mengeluh kepada angin yang lewat, kepada lebah-lebah yang berkunjung, bahkan ke tetesan embun pagi. Daisy menangis ketika hujan datang, supaya bunga-bunga yang lain tidak tahu perasaannya. Angin mencoba menenangkan Daisy. Angin mencoba netral tapi tentunya sebagai angin dia sendiri sulit untuk tidak menentukan posisi dan bergerak-gerak terus sesuka hati. Kebingungan angin membuat badai sesekali di pinggiran sungai.

Bunyi riak-riak air sungai kadang membangunkan Daisy dari lamunan dan kembali ke kenyataan di mana Magnolia masih membencinya dengan sangat. “Bisakah sekuncup bunga merasakan kebencian yang sangat kepada bunga yang lain dan memutuskan untuk tidak ingin berbagi udara maupun air maupun bumi? Bisakah sesuatu yang sangat indah merasakan sesuatu hal yang sangat busuk?” Daisy tertegun dan bertanya-tanya sendiri.

Berbicara, rapat dan tabrakan

Mr James terus berbicara dan berbicara selama 45 menit tanpa henti. 5 menit pertama pikiran saya melayang kemana-mana, ke email yang belum dibalas, email yang harus dibuat, betapa merahnya sepatu yang saya pakai, lubang di stocking, teh yang mendingin, pulpen yang habis tintanya, sampai demam yang rasanya menghindapi. Ketika Mr James bertanya mengenai pendapat saya mengenai pendapatnya pada 5 menit pertama dia berbicara, saya menjawab dengan jujur bahwa pikiran saya tidak di situ. Dia bertanya apakah itu masalah pacar, masalah uang, masalah klien, masalah mobil, masalah sex, masalah apartemen, dan saya menjawab tidak satupun dari itu karena saya hanya berpikir mengenail hal-hal kecil saja. Mr James berkata bahwa hal itu (saya tidak memperhatikan) membuatnya stress karena itu saya berjanji untuk lebih memperhatikan ketika dia berbicara. Dia mengangguk dan kemudian terus berbicara berbicara berbicara berbicara

berbicara

berbicara

berbicara berbicara berbicara ber bi ca ra b e r b i c a r a

Saya terus memperhatikan dengan seksama. Tiba-tiba saya melihat keluar jendela dan, “Tabrakan!” saya seketika berteriak. Tidak mungkin tidak berteriak melihat kejadian itu. Biar saja Mr James marah, kalau ada tabrakan di luar jendela semua orang harus tahu bukan? Semua orang bergegas ke jendela termasuk Mr James. Mobil van pembawa buah yang supirnya sedang berbicara di telepon genggam tidak sengaja (sebaiknya dia tidak sengaja) menabrak pengemudi sepeda yang tidak peduli kanan kiri ketika menyebrang jalan. “Sama-sama tolol!” Mr James berkomentar. Kalimat terakhir ini membuat saya teringat mengenai seorang teman dekat yang baru saja menghapus saya dari Facebook-nya karena mungkin, kami sama-sama tolol. Saya tidak tahu analogi ini relevan atau tidak, tapi mungkin rasanya seperti hilang iPhone 4 baru beserta apps-nya serta konten penting lainnya di tempat yang dia (si penghapus) tahu tapi sangat sangat malas dan ragu-ragu untuk kembali. Walau sangat berharga, iPhone 4 mudah digantikan kalau punya uangnya. Pertanyaannya adalah, apakah dia mau berjuang mengambil si iPhone walaupun menguras emosi tapi bisa menyelamatkan banyak hal yang penting di dalamnya atau membeli iPhone baru dan mengisi kembali apps serta konten lainnya walaupun menghabiskan banyak uang dan waktu? Wow, apakah saya baru membandingkan pertemanan dan iPhone 4 di tengah-tengah melihat tabrakan di sela-sela rapat? Mungkin saya memang kena demam.

Demam tidak penting, sebab rapat mengenai efektivitas presentasi kepada klien lebih penting saat ini. Drama yang melibatkan teriakan masing-masih pengemudi pun berakhir setelah polisi datang dan Mr James menutup tirai jendela untuk kami kembali rapat. Mr James kembali berbicara

berbicara

berbicara

b e r b i c a r a

Saya menggerutu dalam hati tapi karena berjanji untuk terus mendengarkan saya menelan kembali makian sebelum keluar dari mulut yang gatal untuk menyela Mr James. Rapat selesai setelah 45 menit tanpa menghasilkan apa-apa – itu yang kalian dapat kalau rapat tanpa sebenarnya berada di ruangan rapat dengan pikiran kemana-mana (teh, tabrakan, pulpen, sepatu merah, Facebook, iPhone 4, demam).