“Mungkin hanya kamu yang tahu mungkin tidak ada siapapun yang tahu. Mengapa kita sangat ingin dimengerti ketika apapun yang kamu lakukan sangat sangat jauh dari batas orang bisa mengerti. Mengapa kita masih ingin sangat dicintai walaupun tahu kita sudah menyakiti orang tersebut. Betapa hari-hari rasanya seperti akan berakhir karena tahu kita sudah tidak dicintai lagi. Karena satu-satunya orang yang bisa mencintai kita berhenti merasakan, menginginkan, memimpikan, mengharapkan, menunggu kita. Paling tidak kita berbicara. Paling tidak kita masih bilang “hati-hati” ketika salah satu keluar rumah. Paling tidak kita masih bisa bangun sampai jam 2 pagi berbicara hal-hal acak. Paling tidak salah satu dari kita masih sangat mencintai. Mungkin suatu saat perasaan orang tersebut akan kembali dan ketika kita mencium kening satu sama lain di pagi hari kita benar-benar merasakan bahwa kita cinta satu sama lain dan akan merindukan satu sama lain walaupun hanya keluar rumah untuk membeli telur dan susu di supermarket. Mungkin ini juga yang disebut dengan impian karena ini tidak terjadi sama sekali di kehidupan nyata. Kamu mengerti maksud saya di sini? Mungkin saya harus bersyukur dengan paling tidak kamu mengakui saya masih ada.”
Category Archives: A few rambles
About songs
“Some of these days
You’re gonna miss me, honey
Some of these days
You’re gonna feel so lonely
You’ll miss my huggin’
You’ll miss my kissin’…”
Songs, are like stories. They don’t mean a damn unless there’s people listening to them.
Yeah you heard me.
- Posted using BlogPress from my Pony, at Hotel de la Cite Concorde Lyon Room 225
You betcha.
Irritated by something you cannot put your finger on is absolutely irritating.
You made choices
You made choices. Not all of them were the best for you. Not all of them were decided on sober hours. Not all of them led you to the point where you feel content. Not all of them were regretted. Not all of them haunted your nights. Not all of them were being the topic of discussions during lunch hours and smoking breaks. Not all of them were in your head every morning on the way to the work stations. Not all of them made you cry. Not all of them made you feel useless. Not all of them were the brightest ones. Not all them got you into troubles. Not all of them sucked you into depression. Not all of them made you go to see the doctor and took two pills every 7.00 am. Not all of them were agreeable. Not all them made you eager to write a book about dramas. Not all them made you curse and swear a thousand times every day. Not all of them made you hating people so much and refusing to be friends with them. Not all of them made you hated by people so much and they refused to be friends with you. Not all of them were selfish. Not all of them were your choice anyway. Not all of them made by you 100%. Not all of them would save the world. Not all of them were the consequences of your previous choices. Not all of them made you getting laid. Not all of them turned into lyrics and then soundtracks of your life. Not all of them were real. Not all of them were inspired by your parents. Not all of them made you quit your job. Not all of them brought you happiness. Not all of them broke your heart. Not all of them broke your boyfriend and girlfriend and husband and wife’s heart. Not all of them made you burn the letters and pictures. Not all of them turned their backs against you. Not all of them were wrong. Not all of them were right. Not all of them were you. Not all of them were mine.
Beberapa kroner untuk Indonesia
Suara ambulan di luar jendela pagi-pagi sekali membangunkan Nona Sibuk, yang dua detik kemudian kaget karena baru menyadari bahwa itu bukan bunyi alarm biasa jam 7.00 pagi, tapi suara ambulan. Suara ambulan pagi-pagi? Cukup aneh. Tapi suara itu datang 5 menit sebelum alarm yang sebenarnya berbunyi, jadi ketika alarm yang sebenarnya berbunyi terus-terusan tanpa henti, Nona Sibuk sudah berada di kamar mandi, dan tidak sadar kalau alarm-nya membantu membangunkan tetangga sebelah kamarnya, yang seharusnya bangun dua jam yang lalu untuk kerja shift pagi.
Kembali ke suara ambulan. Di Indonesia, suara sirene sudah bukan suara yang aneh mau sepagi apapun. Terutama setelah gempa bumi, tsunami dan meletusnya Gunung Merapi. Sembari mandi, Nona Sibuk teringat ide untuk menggalang dana di kantornya untuk Indonesia. Biar bule-bule itu dia palak uang makan siangnya untuk Indonesia. Sembari sikat gigi, Nona Sibuk sibuk menyusun kata-kata di email yang akan dia kirim untuk para kolega.
Hal yang pertama didengar ketika sampai di kantor hari ini anehnya lagi-lagi ambulan. Kira-kira apa yang terjadi sampai bunyi ambulan terdengar dua kali hari ini? Di Oslo, Nona Sibuk jarang sekali mendengar bunyi sirene – sama halnya dengan bunyi klakson. Apalagi berita mengenai gempa bumi, tsunami, maupun meletusnya gunung merapi.
Email mengenai sumbangan terkirim, dan kepala-kepala bermunculan di ruangan kantornya sembari membawa koin-koin kroner. 20, 10, 50, dan lain-lain. Satu kolega menyarankan untuk mentransfer hutang naik taxi bersama Nona Sibuk untuk sumbangannya. Satu kolega menyangka email ini bercanda dan Nona Sibuk hanya mengumpulkan uang untuk minum-minum bir. Well, tidak untuk kali ini – Nona Sibuk sudah membalas emailnya dengan mengirimkan link-link mengenai bencana-bencana itu. Satu kolega terkejut luar biasa dan tidak tahu menahu mengenai bencana itu serta sangat berduka tapi (sepertinya) memutuskan tidak memberi apa-apa. Satu kolega hanya membawa 7 kroner kontan di dompetnya dan bertanya uang sebanyak itu bisa membeli apa. Nona Sibuk membalas, “Mungkin untuk makan siang dua kali, dan 7 kroner saja tidak apa-apa.” Satu kolega tidak masuk kantor dan minta agar Nona Sibuk membayar dulu untuknya sebanyak 20 kroner. Satu kolega memberi banyak koin dan kemudian memutuskan untuk meminjam beberapa untuk tiket bus pulang. Dua kolega, yang memiliki uang paling banyak, tidak bereaksi apa-apa (Nona Sibuk berpikir, “Dasar pelit.”).
Satu kolega, yang sudah memberi uang makan siangnya, bertanya mengenai jumlah uang yang Nona Sibuk akan kirim dan kemudian menambah dua kali lipat sumbangannya setelah mendengar berapa banyak yang Nona Sibuk akan kirim. Beberapa kolega membahas mengenai jumlah itu dan berpikir Nona Sibuk agak gila, tapi Nona Sibuk tidak mengindahkan karena dia memang sangat sangat peduli dengan apa yang terjadi dan ingin sekali membantu sebisa mungkin. Lagian ingin pulang ke Indonesia dan membantu langsung pun jauh lebih mahal daripada jumlah itu. Mereka juga kemudian mengakui bahwa jiwa sosial seperti itu bukan hal yang mereka miliki.
Satu kolega datang ke kantor dan pulang tanpa membuka emailnya sama sekali. Satu kolega menantang ping-pong dan kalau dia kalah dia akan memberi 50 kroner (“Hanya 50 kroner?” Dia menaikkan jadi 100 kroner). Nona Sibuk kalah, tapi dia tetap memberi 50 kroner – nampaknya dia memang ingin main ping-pong saja.
Sudah lihat foto-foto paska Gunung Merapi meletus di BBC News? Malam sebelum hari ini tetangga Nona Sibuk memberi komentar bahwa Indonesia terlihat seperti Norwegia di musim dingin. Abu di dalam rumah dan di atas jalanan terlihat seperti salju tebal di bulan Januari. Bahkan Norwegia pun belum seputih itu.
Nona Sibuk pulang ke apartemennya dengan koin-koin bergerincing di tas kerjanya. Dia berencana mengirimkan sumbangan segera ke organisasi lokal, yang dia pikir bisa membantunya menyebarkan bantuan itu dan tidak mengambil keuntungan buat mereka sendiri. Setelah memasak makan malam, makan dengan seorang teman yang berkunjung dari Perancis, Nona Sibuk membuka laptopnya dan mengisi formulir transfer uang ke luar negeri. Tiba-tiba ada bunyi ambulan lagi dari luar jendela. Nona Sibuk tertegun menatap laptopnya sambil meneteskan setitik air mata. Indonesia terasa sangat jauh sekali dari Norwegia.
A day to pray
Boy, she was troubled all day. She was obviously in a mood. Her emotion wore her down and nothing could cure the grief. There are some bad days and there are some good days. Can’t we all just have good days? Obviously not, too many things are in the way of a perfectly good day, especially on a Monday. She doesn’t know jack shit about keeping it together anymore. Her flatmates greeted her while she mumbled ignorantly. “What’s with the look? Your husband just died? Or did you get raped?” “Can’t you fucking tell that I’m not in the fucking mood? Can’t you just get the fuck out of here?” This conversation happened in the kitchen and she kicked her flatmates out of that common place. They could only get out of the kitchen trying to understand what just happened before the door was slammed. No one really wanted to deal with her mercurial temperament at that point. They thought, let her burn the kitchen herself. This was a bad day and she was wearing its heavy boots all day. But let me tell you, this meant absolutely nothing; a pointless mercurial temperament that would lead to nowhere but some sour tears. Staring at the boiling water on the stove, she felt really sorry and sad for one of her friends and the situation she was facing. She was praying for her. These heavy boots were nothing compared to it. Everything will be OK, right? She was praying once more, and again, and again until the pan ran out of the boiling water.
